<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TRyIng tO Be GReEner...</title>
	<atom:link href="http://demibumi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://demibumi.wordpress.com</link>
	<description>HiJAu BiRu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 10:47:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='demibumi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a06401bace0d428e9ea839c5afb13286?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>TRyIng tO Be GReEner...</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://demibumi.wordpress.com/osd.xml" title="TRyIng tO Be GReEner..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://demibumi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gunung Merapi Pasca Letusan</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/26/merapi_letusan/</link>
		<comments>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/26/merapi_letusan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 16:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Heu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[cangkringan]]></category>
		<category><![CDATA[kali gendol]]></category>
		<category><![CDATA[letusan]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[wisata bencana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demibumi.wordpress.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Wisata Batu Gajah di Kali Gendol Wisata bencana! Meski bukan lagi hal yang baru, &#8220;genre&#8221; wisata terus mendapatkan momentumnya di Indonesia. Hal itu bisa dimaklumi karena negeri ini memang terletak di sumbu bencana alam. Posisi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng benua dan samudra, membuat negara ini rawan gempa dan tsunami. Indonesia juga berada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=410&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;" lang="IN"><strong>Wisata Batu Gajah di Kali Gendol</strong></span></p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-411" title="foto4" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto4.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Wisata bencana! Meski bukan lagi hal yang baru, &#8220;genre&#8221; wisata terus mendapatkan momentumnya di Indonesia. Hal itu bisa dimaklumi karena negeri ini memang terletak di sumbu bencana alam. Posisi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng benua dan samudra, membuat negara ini rawan gempa dan tsunami. Indonesia juga berada di ring of fire atau jalur gunung api dunia, yang melintas mulai dari Aceh di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, sampai dengan Kepulauan Maluku. Berada di ring of fire, tentunya membuat kita harus mengakrabi berbagai jenis letusan gunung api. Belum cukup, bencana alam akibat ulah manusia, saat ini pun sering terjadi sebut saja banjir, kebakaran hutan, tanah longsor dan lain sebagai. Jadi lengkaplah sudah Indonesia sebagai negeri sarat bencana.</p>
<p><span id="more-410"></span>Nah, ngomong-ngomong bencana, di lereng Gunung Merapi saat ini sedang booming wisata bencana pascaletusan gunung teraktif di dunia itu. Salah satu di antaranya di aliran Kali Gendol, Kabupaten Sleman DIY. Dia akhir pekan atau hari libur, ribuan orang berbondong-bondong mendatangi obyek wisata “dadakan” ini. Mereka, tentunya, adalah orang-orang yang penasaran dengan kedahsyatan letusan Merapi yang terjadi November lalu.</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-412" title="foto5" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto5.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sama dengan para wisatawan itu, saya pun terpancing untuk ikut datang dan menikmati Kali Gendol. Pada awal Januari lalu, saya bersama beberapa teman pun hadir menikmati Gendol yang benar-benar porak-poranda diamuk material vulkanik. Berangkat dari Solo, kami menaiki lereng Merapi dari kawasan Kalasan, Prambanan. Sesampainya di Argomulyo, kami ke arah timur menuju jembatan Bronggang. Dari jembatan Bronggang ini, kedahsyatan Merapi mulai tampak. Sebuah batu segede gajah tampak teronggok di tengah jalan. Betapa dahsyatnya letusan tersebut sehingga batu nan besar itu bisa berpindah tempat.</p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan, hingga Petung dan menikmati Gendol Tour dari desa yang hilang ini. Luar biasa! Kali Gendol nyaris rata dengan tebing di kiri kanannya. Beberapa rumah tenggelam oleh material vulkanik, rumah lain rusak rata dengan tanah, pohon gosong di mana-mana, dan asap masih mengepul dari material pasir dan batu. Bau belereng juga masih menyengat, panas juga masih dirasakan. Di tengah kali, tersisakan alur saluran air yang tak lagi seberapa luas.</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto6.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-413" title="foto6" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto6.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dari kejauhan kami melihat satu keluarga asyik menikmati pasir yang mengeluarkan uap panas plus belerang. Kami mendatangi mereka.<br />
“Kegunaannya untuk apa Pak,” tanya saya, kepada seorang bapak yang melepas sandalnya dan menapakkan kaki ke pasir-pasir panas itu.<br />
“Untuk rematik, menghilangkan pegal-pegal,” katanya menjawab.<br />
“Bisa juga untuk penyakit kulit,” tambahnya.<br />
Saya pun melepas sandal dan ikut merasakan panas pasir. Telapak kaki serasa direndam air hangat, meski lama kelamaan panas di kaki semakin menjadi.</p>
<p>Begitulah aktivitas para wisatawan, menikmati sisa-sisa keangkuhan Merapi, menikmati jutaan ton onggokan pasir dan batu-batu sebesar gajah, rumah-rumah rusak, jalan-jalan ambrol, lahan pertanian yang porak-poranda, dan lain sebaginya.<br />
Yang pasti kedatangan kami bukan untuk menonton kesedihan, karena duka mereka duka kita semua warga Indonesia. Bencana Merapi, adalah pelajaran hidup bagi kita semua, agar kita bisa lebih mengakrabi bencana. Sehingga kita bisa mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin dimunculkan. Wisata bencana sejatinya juga membukakan mata hati kita, bahwa manusia adalah sangat-sangat kecil di hadapan Yang Maha Kuasa&#8230;</p>
<p>Posting sama dapat dibaca di blog saya yang lain  <a title="wisata batu gajah" href="http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/26/wisata-batu-gajah-di-kali-gendol/">Kompasiana.com/biruelok</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demibumi.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demibumi.wordpress.com/410/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=410&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/26/merapi_letusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/415e7ec26aa7fa1329ae41505a959e96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adaptasi Perubahan Iklim</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/24/sekolah-iklim/</link>
		<comments>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/24/sekolah-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 16:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Heu</dc:creator>
				<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pola tanam]]></category>
		<category><![CDATA[sawah]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demibumi.wordpress.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Yuk, Belajar di Sekolah Iklim..! Jam baru menujukkan sekitar pukul sembilan pagi, saat sekitar 15 petani asyik beraktivitas di areal persawahan. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok dan larut dengan kegiatannya masing-masing. Yang pasti mereka bukan sedang mencari gulma, atau mengusir hama pengganggu tanaman. Mereka sedang bersekolah! Ya, sekolah lapangan. Bukan sembarang sekolah lapangan, ini adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=386&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;" lang="IN"><strong>Yuk, Belajar di Sekolah Iklim..!</strong></span></p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-387" title="foto sli 3" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-3.jpg?w=468" alt=""   /></a><strong>J</strong>am baru menujukkan sekitar pukul sembilan pagi, saat sekitar 15 petani asyik beraktivitas di areal persawahan. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok dan larut dengan kegiatannya masing-masing. Yang pasti mereka bukan sedang mencari gulma, atau mengusir hama pengganggu tanaman. Mereka sedang bersekolah! Ya, sekolah lapangan. Bukan sembarang sekolah lapangan, ini adalah sekolah lapang soal iklim.</p>
<p>Sekolah Lapang Iklim atau SLI, adalah salah satu upaya yang ditawarkan pemerintah guna mengatasi problem ketidakpastian iklim akibat dari perubahan iklim global.</p>
<p><span id="more-386"></span></p>
<p>Bayangan sinar matahari masih seukuran tubuh, masih cukup menyehatkan, ketika Ibu Endang dengan bersemangat menerobos rerimbunan tanaman padi untuk mencatat setiap pengamatan yang dilakukan oleh Pak Mulyono. Di kelompok lain ada yang mencatat suhu dan kelembaban tanah, ada yang konsentrasi menghitung rumpun anakan padi serta jumlah bulir padi per rumpun. Seperti dilakukan oleh Pak Susilo yang dengan cekatan menghitung satu per satu jumlah bulir padi per rumpun.</p>
<p>Mereka semua adalah peserta Sekolah Lapang Iklim di Desa Rembun, Kecamatan Nogosari, Boyolali. Ibu Endang adalah seorang penyuluh pertanian sedangkan Pak Susilo dan Pak Mulyono adalah petani yang tergabung dalam Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Marsudi Makmur. Kegiatan yang digambarkan tadi adalah kegiatan lapangan mereka pada Rabu 27 Oktober 2010.</p>
<p>Pada kegiatan SL Iklim, petani membuat petak percobaan (demplot), yakni budidaya padi dengan perlakukan konvensional (ala petani pada umumnya), dan budidaya padi dengan perlakukan ala SL Iklim. Di laboratorium lapang itulah dilakukan pengamatan dengan membandingkan demplot konvensional dengan demplot ala SL Iklim. Nah, bagaimana penyajian datanya? Di bawah ini adalah pengamatan tim kelompok satu SL Iklim Rembun yang dipresentasikan salah satu peserta SL Iklim Pak Sujarwo:</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-tebel.jpg"><img class="size-full wp-image-389 alignleft" title="foto sli 4 tebel" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-tebel.jpg?w=468&#038;h=309" alt="" width="468" height="309" /></a>Lantas, apa beda perlakukan antara Petak SLI dan petak di luar SLI. Pak Haji Muksam, salah satu peserta SLI, menjelaskan perlakukan dalam petak SLI di antaranya penerapan jejer legowo atau pertanaman padi dengan jarak lebih renggang. Kemudian, penggunaan pupuk organik dan meminimalkan pemakaian pestisida. ”Kita dulu kena serangan hama wereng kenapa? Karena petani kurang memahami caranya mengatasi hama wereng. Petani menggunakan obat yang berlebihan,” jelas Pak Muksam. Penggunaan pestisida berlebihan menyebabkan musuh alami mati sehingga hama akan lebih mudah berkembang.</p>
<p>Mengenai jejer legowo, Pak Muksam menjelaskan ada beberapa teknik di antaranya jejer 4-1. ”Jejer 4-1, maksudnya dalam empat tancap rumpun padi diberi satu gang,” katanya. Dengan jarak tanam yang yang lebih renggang ini, jelas Pak Muksam, membuat matahari dapat sampai ke areal perakaran sehingga mengungari kelembaban. Hama seperti wereng sangat menyukai tempat yang lembab, jika iklim mikro ini dikendalikan maka wereng tak akan mendapatkan tempat hidup yang ideal bagi perkembangannya.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-jejer.jpg"><img class="size-full wp-image-390 alignright" title="foto sli 4 jejer" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-jejer.jpg?w=468&#038;h=223" alt="" width="468" height="223" /></a>Secara umum sekolah iklim memang mengajarkan budidaya pertanian ramah lingkungan di antaranya dengan meminimalkan penggunaan bahan anorganik termasuk pestisida. Teknik itu lantas dikombinasikan dengan informasi prediksi iklim dan pemahaman iklim mikro di areal pertanaman. Dari sini penyuluh pertanian dan Dinas Pertanian mempunyai peran penting dalam menyebarluarkan informasi prediksi iklim dalam kurun waktu tertentu. Dari prediksi iklim inilah dapat dianalisis potensi ancaman pertanian untuk kemudian dicarikan solusinya.</p>
<p><strong>Musim Hujan</strong></p>
<p>Sebagai contoh, jika pemerintah atau instansi terkait memprakirakan akan terjadi musim hujan dalam satu musim tanam padi, dapat dianalisis beberapa hal misalnya adanya serangan hama wereng. Hujan akan menyebabkan kelembaban meningkat. Kelembaban tinggi inilah yang memicu ledakan hama wereng. Aplikasi SL Iklim, seperti dijelaskan Pak Muksam salah satu di antaranya dengan membuat jarak tanam yang renggang, yakni dengan teknik jejer legowo. Jarak tanam renggang akan membuat kelembaban di daerah perakaran tidak berlebihan selain memudahkan petani mudah dalam mengusir wereng secara mekanik (dipyaki).</p>
<p>Hujan juga berpotensi menimbulkan banjir. Dalam SL Iklim di Rembun, didiskusikan faktor-faktor yang menyebakan banjir. Dengan mengenal faktor-faktor penyebab banjir, petani setidaknya dapat mengantisipasi kerusakan yang mungkin didapat dari banjir.</p>
<p>Berikut gambaran diskusi mengenai banjir dalam SL Iklim yang dipandu oleh Pak Iskak Harjono, instruktur SL Iklim Boyolali:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-10.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-392" title="foto sli 10" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-10.jpg?w=468" alt=""   /></a><em>”Apa faktor penyebab banjir?” kata Iskak.</em></p>
<p><em>Jawaban yang tereskplorasi: curah hujan tinggi, penggundulan hutan, peresapan kurang, pendangakalan sungai, pembuangan sampah dan lain sebagainya. </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>”Bagaimana mengatasi banjir?” tanya Iskak.</em></p>
<p><em>Ide-ide yang mencuat adalah membuat sumur resapan atau embung, buang sampah jangan sembarangan, penghijauan, normalisasi saluran pembuangan, pengerukan sungai dan lain sebagainya. </em></p>
<p>Dari diskusi itu, petani diajak untuk mengenali penyebab banjir dengan belajar dari kasus-kasus di sekitar mereka. Petani juga diminta mencari cara mengantisipasinya agar kelak cara-cara itu juga bisa dipraktikkan. Masih banyak hal lain yang harus disesuaikan jika musim hujan diprediksi berkepanjangan, di antaranya soal pemupukan pupuk anorganik dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Musim Kemarau</strong></p>
<p>Fokus utama dalam budidaya padi di musim kemarau adalah air. Petani alumni SL Iklim diharapkan bisa mencari jalan keluar jika iklim diprediksi kemarau. Teknik yang ditawarkan di antaranya mengganti tanaman padi dengan palawija, membuat sumur pantek untuk mengairi sawah jika suplai dari saluran irigasi menipis, dan manajemen bersama pengelolaan air.</p>
<p>Pak Haji Muchlas, seorang alumni SL Iklim 2009 asal Desa Pulutan Nogosari mengatakan dia menggunakan air dari sumber sumur pantek untuk memenuhi kebutuhan air sawahnya. ”Pulutan daerah satu-satunya yang berani mencoba padi pada musim kemarau (tahun 2009) tidak irigasi di sini, modalnya nekat dan ketekunan karena mengandalkan sumur pantek. Kalau petaninya tidak ulet bisa gagal,” papar Pak Muchlas.</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-393" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-2.jpg?w=281&#038;h=300" alt="" width="281" height="300" /></a>Dia menambahkan perubahan iklim akan menguntungkan jika bisa mengantisipasi tapi kalau tidak akan mencelakakan. Saat kemarau 2009 itu, penyuluh pertanian di Boyolali lebih menganjurkan penanaman palawija daripada mengambil risiko bertanam padi.</p>
<p>Sementara Pak Muksam menjelaskan organisasi P3A memainkan peran yang penting saat musim kemarau tiba. Dia mengatakan selain sumur pantek, petani mengandalkan manajemen penggunaan air yang dikoordinasikan oleh P3A. ”Dengan pompa ngedum membagi jam-jaman, tujuannya untuk menghemat air tidak boleh berlebihan. Jadi pembagian air dilakukan bergiliran, istilahnya gontoran, melibatkan petugas dari pengairan, gapoktan dan P3A,” papar Muksam.</p>
<p>Begitulah sedikit gambaran hasil sekolah iklim di Boyolali. Yang pasti, pengetahuan yang mereka dapatkan diharapkan bisa menjadi modal untuk beradaptasi menghadapi fenomena iklim yang tidak menentu ini.</p>
<p>Instruktur SL Iklim, Pak Iskak Harjono menjelaskan sekolah iklim digelar sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim dalam budidaya pertanian. Dengan memahami data-data iklim, lanjut Pak Iskak, diharapkan petani bisa mengidentifikasi musim untuk pertanaman budidaya pertanian mereka. &#8220;Dengan demikian mereka bisa menentukan pola tanam, atau bisa mengatur agar tanaman tidak kebanjiran atau kekeringan,&#8221; paparnya. Oke deh, semoga sukses.</p>
<p>Salam Pertanian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demibumi.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demibumi.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=386&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demibumi.wordpress.com/2011/01/24/sekolah-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/415e7ec26aa7fa1329ae41505a959e96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto sli 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-tebel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto sli 4 tebel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-4-jejer.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto sli 4 jejer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto sli 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2011/01/foto-sli-2.jpg?w=281" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebo Bule Keraton Solo</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com/2010/10/01/kebo-bule-keraton-solo/</link>
		<comments>http://demibumi.wordpress.com/2010/10/01/kebo-bule-keraton-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 16:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Heu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebo bule. keraton solo]]></category>
		<category><![CDATA[kyai slamet]]></category>
		<category><![CDATA[ngalap berkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demibumi.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Mati, Dikafani &#38; Dikubur Ala Manusia Sejak 250 tahun, kebo bule memiliki makna spesial dalam kehidupan di Keraton Surakarta, bahkan hingga saat ini, kebo bule tetap mendapat tempat terhormat. Terbukti, saat salah satu kebo bule itu mati, prosesi pemakaman dilakukan layaknya memakamkan manusia. Mulai dari ritual memandikan, dikafani, tabur bunga hingga ditutup dengan doa. Rabu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=375&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;" lang="IN"><strong>Mati, Dikafani &amp; Dikubur Ala Manusia</strong></span></p>
<p><span style="font-size:16pt;" lang="IN"><strong><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule3.jpg"><img class="alignleft size-large wp-image-376" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule3.jpg?w=365&#038;h=274" alt="" width="365" height="274" /></a></strong></span><strong>S</strong>ejak 250 tahun, kebo bule memiliki makna spesial dalam kehidupan di Keraton Surakarta, bahkan hingga saat ini, kebo bule tetap mendapat tempat terhormat. Terbukti, saat salah satu kebo bule itu mati, prosesi pemakaman dilakukan layaknya memakamkan manusia. Mulai dari ritual memandikan, dikafani, tabur bunga hingga ditutup dengan doa.</p>
<p><span id="more-375"></span><br />
Rabu, 22 September 2010, seekor kebo bule bernama Nyai Debleng mati karena usia tua. Keesokan paginya, Kamis (23/9), prosesi pemakaman pun digelar. Nyai Debleng (yang merupakan keturunan cukup dekat kebo Kyai Slamet, moyang kebo bule Keraton Surakarta) dikubur di salah satu areal kandang di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta. Setidaknya 50 orang, termasuk belasan abdi dalem keraton, hadir dalam acara itu.</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule.jpg"><img class="size-medium wp-image-377 alignleft" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> Prosesi dimulai dengan mensucikan (memandikan) layaknya jenazah manusia. Dengan bergantian, para abdi dalem menyiramkan air berbunga mawar sebagai tanda penghormatan kepada hewan itu. Setelah dianggap suci, para abdi dalem yang berjumlah 12 orang mengangkat tubuh besar sang kebo untuk dimasukkan ke liang lahat berukuran 2,25×2 meter. Liang kubur dibuat memanjang arah utara-selatan dan dasarnya sudah dialasi kain kafan. Sang kebo lantas diposisikan menghadap barat, layaknya memakamkan manusia.</p>
<p>Saat tubuh sang kebo sudah mapan, abdi dalem menyelimutinya dengan kain kafan, hingga semua tubuh terbungkus kecuali bagian kepala (wajah). Kemudian rangkaian bunga melati dihiaskan di tubuh kebo, diikuti taburan bunga mawar. Tak berselang lama, sejumlah warga tampak melemparkan uang (sawer) ke liang lahat, sebelum ulama keraton memimpin doa pemakaman. Seusai didoakan, liang pun ditutup dengan tanah layaknya makam-makam manusia.<br />
Hal yang menarik, abdi dalem dan pengunjung bergiliran menguruk kubur. Bahkan, tak sedikit pengunjung yang melakukannya dengan semangat tinggi dan tak kenal lelah. Hal ini mengindikasikan bahwa “sesuatu” yang dikubur tadi adalah “sesuatu” yang berharga dan sangat dihormati.</p>
<p><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule2.jpg"><img class="size-large wp-image-378 alignright" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule2.jpg?w=368&#038;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></p>
<p>Setelah gundukan terbentuk di makam itu, bunga pun ditaburkan. Prosesi pemakaman selesai. Namun demikian bagi sebagian pengunjung, prosesi belum selesai. Sebagian dari mereka berdoa di depan makam sang nyai. Memulai dengan mengatupkan tangan di depan wajah sebagai tanda penghormatan, komat-kamit melantunkan doa, dan kembali menyembah makam sang nyai. Sebagian lain, mengambil bunga yang sudah ditaburkan dan dibawa pulang.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule4.jpg"><img class="size-large wp-image-379 alignleft" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule4.jpg?w=368&#038;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a><br />
Ada pula yang menghubungi abdi dalem pemelihara kebo bule untuk menjadi perantara pendoa. Jika diminta demikian sang abdi dalem melakukan ritual di depan makam, lantas diambilnya gumpalan tanah kubur atau batu untuk diberikan kepada sang pemesan. Tinggal sampaikan saja keinginan kita, sang abdi akan menyampaikannya dalam ritual yang dilakukannya.</p>
<p>Tulisan ini sebelumnya sudah dipublikasikan di blog saya yang lain: Kompasiana.com/biruelok</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demibumi.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demibumi.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=375&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demibumi.wordpress.com/2010/10/01/kebo-bule-keraton-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/415e7ec26aa7fa1329ae41505a959e96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule3.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule2.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/10/bule4.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri Petualangan Sekar</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com/2010/09/08/seri-petualangan-sekar/</link>
		<comments>http://demibumi.wordpress.com/2010/09/08/seri-petualangan-sekar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 13:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Heu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Sukuh]]></category>
		<category><![CDATA[Karanganyar]]></category>
		<category><![CDATA[Purbakala]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demibumi.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=364&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-1.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-365" title="sukuh 1" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-1.jpg?w=435&#038;h=279" alt="" width="435" height="279" /></a><span id="more-364"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-2.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-366" title="sukuh 2" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-2.jpg?w=435&#038;h=279" alt="" width="435" height="279" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-3.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-367" title="sukuh 3" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-3.jpg?w=435&#038;h=279" alt="" width="435" height="279" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demibumi.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demibumi.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=364&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demibumi.wordpress.com/2010/09/08/seri-petualangan-sekar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/415e7ec26aa7fa1329ae41505a959e96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-1.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">sukuh 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-2.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">sukuh 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/09/sukuh-3.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">sukuh 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Forum UNEP di Bali</title>
		<link>http://demibumi.wordpress.com/2010/02/23/forum-unep-di-bali-2/</link>
		<comments>http://demibumi.wordpress.com/2010/02/23/forum-unep-di-bali-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 12:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Heu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[gas rumah kaca]]></category>
		<category><![CDATA[UNEP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demibumi.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Banting Tulang Potong GRK Negara-negara dunia harus lebih bekerja keras untuk mengurangi emisi gas rumah kaca agar peningkatan temperatur global tidak melebihi 2 derajat Celcius dalam 30 tahun ke depan. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP) Achim Steiner pada jumpa pers di sela-sela pertemuan lingkungan hidup 11th UNEP Special Seasson of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=358&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;" lang="IN"><strong>Banting Tulang Potong GRK<br />
</strong></span></p>
<p><strong><a href="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/02/panas.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-359" title="Global Warming" src="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/02/panas.jpg?w=287&#038;h=300" alt="" width="287" height="300" /></a>N</strong>egara-negara dunia harus lebih bekerja keras untuk mengurangi emisi gas rumah kaca agar peningkatan temperatur global tidak melebihi 2 derajat Celcius dalam 30 tahun ke depan. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP) Achim Steiner pada jumpa pers di sela-sela pertemuan lingkungan hidup 11th UNEP Special Seasson of The Governing Councils di Nusa Dua, Bali, Selasa (23/2).</p>
<p><span id="more-358"></span>Para ahli dalam penelitiannya menyebutkan dunia harus mengerem laju emisi gas rumah kaca (GRK) dalam kisaran 40 sampai 48,3 gigaton setara gas CO2 hingga tahun 2020. Jika hal itu mampu dilakukan, kenaikan temperature global hingga tahun 2050 maksimal hanya 2 derajat Celcius. Steiner mengatakan masyarakat dunia mempunyai peluang 50-50 untuk mewujudkan hal tersebut. “Efisiensi sumber daya, green economy menjadi salah satu kunci mengatasi perubahan iklim. Hal lain yang juga oenting adalah pengelolaan energi, pengurangan polusi udara dan diversifikasi sumber energi,” tutur Steiner.<br />
Sementara pada sesi Media Workshop, pakar Green Economy UNEP, Pavan Sukhdev, menjelaskan ada tiga karakteristik konsep green economy atau  ekonomi hijau yakni investasi publik atau swasta yang ramah lingkungan (green sector), kualitas dan kuantitas bidang kerja ramah lingkungan dan penerapan konsep ramah lingkungan pada anggaran pendapatan dan belanja negara (green gross domestic produc/GDP).<br />
Mengenai kepedulian swasta, Sukhdev mencontohkan pembangunan gedung-gedung yang ramah lingkungan dari sisi arsitektural. “Penelitian di Zimbabwe, pembangunan gedung ramah lingkungan mampu mengurangi penggunaan 10 persen energy lebih sedikit dibandingkan dengan gedung konvensional,” ujar Sukhdev.<br />
Di Banglandes, bank swasta Grameen Shakti (GS) memfasilitasi pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari. Sebanyak 300.000 solar home system  (SHS) atau pembangkit listrik tenaga matahari untuk perumahan telah dipasang.  Penggunaan SHS dengan sendirinya mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga fosil yang mencemari lingkungan.<br />
Konsep ekonomi hijau, ujar Sukhdev, juga diterapkan dengan baik di Uganda melalui penerapan sistem pertanian organik. “85 Persen masyarakat Uganda hidup dari sektor pertanian dan pertanian organic sudah menjadi gerakan baru di sana. Pada tahun 2004, 185.000 hektare area pertanian dibudidayakan secara organik. Angka itu meningkat pada tahun 2008 menjadi 269.203 hektare yang melibatkan sekitar 206.803 petani,” papar Sukhdev.<br />
Penerapan konsep ekonomi hijau, jelas Sukhdev, juga berimplikasi pada penyediaan lapangan kerja. Di dunia 300.000 orang bekerja mengelola pembangkit listrik tenaga angin dan 170.000 orang bekerja mengelola pembangkit listrik tenaga matahari. Rekor tertinggi di Jerman di mana 82.000 orang bekerja di sector pembangkit tenaga angin. (heu)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demibumi.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demibumi.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demibumi.wordpress.com&amp;blog=5628381&amp;post=358&amp;subd=demibumi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demibumi.wordpress.com/2010/02/23/forum-unep-di-bali-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/415e7ec26aa7fa1329ae41505a959e96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://demibumi.files.wordpress.com/2010/02/panas.jpg?w=287" medium="image">
			<media:title type="html">Global Warming</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
