Banting Tulang Potong GRK
Negara-negara dunia harus lebih bekerja keras untuk mengurangi emisi gas rumah kaca agar peningkatan temperatur global tidak melebihi 2 derajat Celcius dalam 30 tahun ke depan. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP) Achim Steiner pada jumpa pers di sela-sela pertemuan lingkungan hidup 11th UNEP Special Seasson of The Governing Councils di Nusa Dua, Bali, Selasa (23/2).
Para ahli dalam penelitiannya menyebutkan dunia harus mengerem laju emisi gas rumah kaca (GRK) dalam kisaran 40 sampai 48,3 gigaton setara gas CO2 hingga tahun 2020. Jika hal itu mampu dilakukan, kenaikan temperature global hingga tahun 2050 maksimal hanya 2 derajat Celcius. Steiner mengatakan masyarakat dunia mempunyai peluang 50-50 untuk mewujudkan hal tersebut. “Efisiensi sumber daya, green economy menjadi salah satu kunci mengatasi perubahan iklim. Hal lain yang juga oenting adalah pengelolaan energi, pengurangan polusi udara dan diversifikasi sumber energi,” tutur Steiner.
Sementara pada sesi Media Workshop, pakar Green Economy UNEP, Pavan Sukhdev, menjelaskan ada tiga karakteristik konsep green economy atau ekonomi hijau yakni investasi publik atau swasta yang ramah lingkungan (green sector), kualitas dan kuantitas bidang kerja ramah lingkungan dan penerapan konsep ramah lingkungan pada anggaran pendapatan dan belanja negara (green gross domestic produc/GDP).
Mengenai kepedulian swasta, Sukhdev mencontohkan pembangunan gedung-gedung yang ramah lingkungan dari sisi arsitektural. “Penelitian di Zimbabwe, pembangunan gedung ramah lingkungan mampu mengurangi penggunaan 10 persen energy lebih sedikit dibandingkan dengan gedung konvensional,” ujar Sukhdev.
Di Banglandes, bank swasta Grameen Shakti (GS) memfasilitasi pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari. Sebanyak 300.000 solar home system (SHS) atau pembangkit listrik tenaga matahari untuk perumahan telah dipasang. Penggunaan SHS dengan sendirinya mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga fosil yang mencemari lingkungan.
Konsep ekonomi hijau, ujar Sukhdev, juga diterapkan dengan baik di Uganda melalui penerapan sistem pertanian organik. “85 Persen masyarakat Uganda hidup dari sektor pertanian dan pertanian organic sudah menjadi gerakan baru di sana. Pada tahun 2004, 185.000 hektare area pertanian dibudidayakan secara organik. Angka itu meningkat pada tahun 2008 menjadi 269.203 hektare yang melibatkan sekitar 206.803 petani,” papar Sukhdev.
Penerapan konsep ekonomi hijau, jelas Sukhdev, juga berimplikasi pada penyediaan lapangan kerja. Di dunia 300.000 orang bekerja mengelola pembangkit listrik tenaga angin dan 170.000 orang bekerja mengelola pembangkit listrik tenaga matahari. Rekor tertinggi di Jerman di mana 82.000 orang bekerja di sector pembangkit tenaga angin. (heu)
Filed under: Uncategorized Tagged: | Bali, gas rumah kaca, UNEP











Saya dukung sepenuhnya untuk pengurangan emisi gas di dunia. dimulai dari kesadaran kita dan masyarakat khususnya.thx